Bismillah, Selamat Datang Di Hidayat Hilal Blog

Semoga isi blog ini dapat bermanfaat.

Firman Allah Ta'ala

Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. Ali ‘Imran:31.

Hadits Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amalan yang diterima. HR. Ibnu Majah (www.muslim.or.id)

Perkataan Ulama

Dunia kampung amal dan akhirat kampung balasan, barang siapa yang tidak beramal di sini akan menyesal di sana. Nasehat Imam Ahmad Radhiallahuanhu.

Tuesday, April 2, 2019

Ringkasan Tafsir Surat Al-Ikhlash

(Sumber Gambar: Wikipedia)

Para Sahabat radhiallohu ‘anhum dalam menyusun surat-surat Alqur’anul Karim menempatkan surat Al-Ikhlash pada urutan ke-112 atau merupakan tiga surat terakhir sebagai penutup susunan surat. Jumlah ayat dari surat Al-Ikhlash yaitu empat ayat dan termasuk dalam kategori surat Mufashshol pendek.

Adapun berdasarkan waktu turunnya, surat tersebut tergolong dalam surat Makiyyah yaitu surat yang turun pada periode Makkah atau sebelum Rasululloh shallallohu ‘alaihi wassallam hijrah. 

Menurut Syaikh Al-Utsaimin bahwa surat Al-Ikhlash dinamakan demikian karena di dalamnya murni membicarakan sifat Allah Ta’ala sehingga kita harus ridho terhadap sifat-sifat tersebut dan berserah diri hanya kepadaNya.

Asbabun Nuzul dari surat Al-Ikhlash yaitu sebagaimana yang diterangkan dalam hadist yang terdapat  dalam Musnad Imam Ahmad 5/134 yakni dari Ubai bin Ka’ab radhiallohu ‘anhu bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wassallam 
يامحمدانسب لناربك
“Wahai Muhammad, jelaskan kepada kami silsilah keturunan Tuhanmu,” maka Allah Ta’ala menurunkan surat Al-Ikhlash.

Adapun tafsir ayat-ayatnya sebagai berikut:
1.  Ayat pertama 
قل هوالله احد
“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”

Kata ‘Qul’ dalam ayat di atas berarti ‘katakan’, kata perintah tersebut secara khusus mengacu kepada Rasululloh shallallohu ‘alaihi wassallam adapun secara umum mengacu kepada semua ummat beliau hingga akhir zaman.

Kata ‘hua’ (Dia) dalam ayat di atas bukanlah muzakkar haqiqi akan tetapi merupakan muzakkar majas sebagaimana kata ‘qomar’ (bulan) disandingkan dengan kata ganti ‘hua’ menjadi ‘hua-alqomar’ sedangkan ‘syamsi’ (matahari) disandingkan dengan kata ‘hia’ menjadi ‘hia-syamsi’ dan ini menunjukkan bahwa kata ‘hia’ pada ‘syamsi’ tersebut merupakan muannas majas.

Kata ‘ahad’ dalam ayat di atas bermakna satu yang tidak terbagi, adapun satu yang merupakan satu kesatuan (yang ada bagian-bagiannya) disebut ‘wahid’.

Makna keseluruhan ayat pertama ini menurut Al-Qurtubhi rahimahulloh yaitu Al Wahid Al Witr tidak ada yang serupa denganNya, tidak ada yang sebanding denganNya, tidak memiliki istri ataupun anak, dan tidak ada sekutu bagiNya.

2. Ayat kedua 
الله اصمد
“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”

Makna kata ‘ashshomad’ dalam ayat tersebut menurut Ibnul Jauziy yakni Allah adalah As Sayid (penghulu) tempat makhluk menyandarkan segala hajat padaNya, Dia tidak memiliki rongga (perut), Dia Maha Kekal bahkan tetap kekal setelah makhluk ciptaanNya binasa.

Ikrimah radhiallohu ‘anhu mengungkapkan bahwa makna ayat kedua secara keseluruhan yakni seluruh makhluk bersandar atau bergantung kepadaNya dalam segala kebutuhan maupun permasalahan.

Adapun Ali bin Abi Tholhah memaknai ayat kedua ini yaitu Dialah As Sayyid (pemimpin) yang kekuasaanNya sempurna. Dialah Asy Syarif yang kemuliaanNya sempurna. Dialah Al’Azhim yang keagunganNya sempurna. Dialah Al Halim yang kemurahanNya sempurna. Dialah Al ‘Alim yang ilmuNya sempurna. Dialah Al Hakim yang sempurna dalam hikmah atau hukumNya. Allahlah yang Maha Sempurna dalam segala kemuliaan dan kekuasaan. SifatNya ini tidak pantas kecuali bagiNya, tidak ada yang setara denganNya, tidak ada yang semisal denganNya. Maha Suci Allah yang Maha Esa dan Maha Kuasa.

3.  Ayat ketiga
لم يلدولم يولد
“Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan”

Ayat ini merupakan jawaban atas tuduhan kaum Yahudi dan Nashrani yang masing-masing mengatakan bahwa ‘Uzair dan Isa adalah anak Allah, sikap syirik mereka tersebut Allah cantumkan dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 30-31. Sedangkan musyrik Arab mengatakan bahwa malaikat adalah anak perempuan Allah (dalilnya terdapat dalam surat Az-Zukhruf ayat 19 dan Al-Anbiya ayat 26).

Semua klaim-klaim tersebut Allah tiadakan dengan ayat ini, bahwa Allah tidak beranak lalu dari anak tersebut akan mendapat warisan, tidak! Allah juga tidak pula diperanakkan yang kemudian karena hal itu Allah akan disekutui, Maha Suci Allah atas apa yang telah mereka persekutukan. 

4.  Ayat keempat 
ولم يكن له كفواحد
“dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengungkapkan bahwa maksud ayat keempat ini yaitu tidak ada yang serupa atau setara dengan Allah dalam hal nama, sifat dan perbuatan. 

Beberapa keutamaan dari Surat Al-Ikhlash yaitu Al-Ikhlash mengandung sepertiga isi Al-Qur’an dan membaca Al-Ikhlas dapat mendatangkan cinta Allah Ta’ala. Adapun dalilnya terdapat dalam hadist Riwayat Bukhori dari sahabat Abu Sa’id radhiallohu ‘anhu bahwa Rasululloh shallallohu ‘alaihi wassallam bersabda kepada para sahabat 
ايعجز أحدكم أن يقرأثلث القران في ليلة, اينا يطيق ذلك يارسول الله, فقال الله الواحدالصمدثلث القران
“Apakah akan melemahkan seorang diantara kalian untuk membaca sepertiga Al-Qur’an dalam satu malam?, para sahabat menjawab Siapakah diantara kami yang mampu melakukan hal itu wahai Rasululloh? Maka beliau bersabda 'alwahidu ashshomad' (Al-Ikhlash) adalah sepertiga Al-Qur’an”.

Maksud dari sepertiga Al-Qur’an bukanlah dengan membacanya lalu kita seolah-olah mengkhatamkan sepertiga Al-Qur’an, bukan. Akan tetapi isi Al-Qur’an terdiri atas tiga bahasan yaitu sifat-sifat Allah, hukum dari Allah dan kisah-kisah orang atau ummat terdahulu. Maka pantaslah Al-Ikhlas dikatakan sepertiga Al-Qur’an karena Al-Ikhlas ini konten seluruhnya tentang sifat-sifat Allah, sedangkan sifat-sifat Allah merupakan salah satu dari tiga bahasan Al-Qur’an.

Dalil membaca Al-Ikhlas dapat mendatangkan cinta Allah yaitu hadits Riwayat Bukhori dari ibunda Aisyah radhiallohu ‘anha, beliau menceritakan bahwa suatu hari Rasululloh shallallohu ‘alaihi wassallam mengutus seorang pria untuk suatu perang, pria ini membacakan untuk para sahabat dalam sholat mereka lalu dia menutup bacaan itu dengan membaca surat Al-Ikhlash, setelah mereka pulang mereka menyebutkan hal itu kepada Nabi shallallohu ‘alaihi wassallam maka beliau bersabda, tanyakan padanya mengapa dia melakukan hal itu? Maka para sahabat bertanya padanya,
فقال لانهاصفةارحمن وأناأحب أن أقرأبها, فقال انبي صلي الله عليه وسلم أخبروه أن الله يحبه
“dia berkata, karena surat itu adalah sifat Allah dan saya suka untuk membacakan surat itu. Maka Nabi shallallohu ‘alaihi wassallam bersabda kabarkan padanya sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai dia”.

_Diintisarikan oleh_ Muh.Hilal

Refrensi: 
Tafsir Ibnu Katsir; Tafsir Al-Aisar; Al-Aqidah Washitiyah; Tafsir Zad Al Masir; Kajian Abdul Shomad Tafsir Al-Ikhlash (29/01/19); Kajian M Abduh Tausikal tentang memahami surat Al-Ikhlas.

Mental Para Pahlawan

(Sumber Gambar: situsbudaya.id)

Hari ini adalah 10 November, negara kita sedang memperingati hari Pahlawan. Sebuah peristiwa dahsyat di Surabaya pada tanggal tersebut di tahun 1945 yg menjadikan 16.000 nyawa (wikipedia.or) lepas dari jasadnya demi mmpertahankan kemerdekaan. Rasa rasanya kita tidak habis pikir, kok bisa sang-penjajah datang lagi setelah Proklamasi dikumandangkan. Ya, begitulah liciknya sang-penjajah.

Tanda jasapun mulai disematkan untuk para pahlawan yang gugur membela kemerdekaan. Betapa indah namanya, tetap disebut berjasa untuk negeri tercinta ini. Lalu sekarang, hikmah apa yg bisa kita petik dari kisah para pahlawan itu? Yang utama yakni setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Bisa kita bayangkan, ada berapa ribu nyawa yang hilang demi membela kemerdekaan negeri ini? Bukankah telah banyak anak-anak yg kehilangan Ayahnya? Atau bahkan sang Ayah melihat langsung anaknya disakiti, disiksa, lalu dibunuh perlahan oleh sang-penjajah?

Begitupun Islam, perjuangn Rasulullah saw bersama para sahabat, tabi'in, tabiuttabi'in utk mendakwahkan Addiinul Islam, menegakkan Tauhid di muka bumi ini bukanlah perjuangan yang mudah. Jutaan ribu nyawa melayang, percikan darah syuhada' seakan menjadi hal biasa untuk dilihat oleh kasat mata, perjuangan yang dahsyat, menguras tenaga dan pikiran demi memisahkan yang hak dan yang bathil.

Jadi, berjuang itu tidak mudah saudaraku. Jika ada yang saat ini sedang berjuang menuntut ilmu, mengejar cita cita, atau merintis sebuah karya untuk kemaslahatan ummat maka padanya pasti ada pengorbanan.

Hikmah berikutnya yang dapat kita ambil dari kisah para pahlawan yakni istiqomah dan sabar. Mereka yang berkorban demi negeri atau Islam itu bukan hanya memerlukan waktu sehari atau dua hari saja, akan tetapi butuh waktu berbulan bulan bahkan bertahun tahun untuk mendapat kemenangan, jika kalah pada perjuangan pertama maka diulang lagi pada perjuangan berikutnya yang persiapannya lebih kuat dan lengkap. Kekalahan bukan kondisi yang melemahkan mereka tetapi dengan itu mereka bersabar dan membangkar semangatnya untuk tetap berjuang.

Maka jika hari ini kita sedang berjuang untuk menuntut ilmu, cita cita, atau sebuah karya, haruslah hari-hari kita dipenuhi sikap istiqomah dan bersabar. Gagal itu wajar, yang terpenting yaitu bangkit setelah gagal dan mau mencoba lagi. Begitulah mental seorang Pahlawan dan Syuhada' yang patut kita praktikkan.

Akhirnya, mari kita hargai perjuangan para Pahlawan negeri dan Syuhada' kita. Bagaimana caranya? Berdoalah untuk keselamatan mereka, isilah nikmat kemerdekaan ini dengan hal positif yang membanggakan negeri dibidang kita masing masing. Teruslah berjuang tanpa lelah, teguhkan aqidah, istiqomah beribadah, pelajari Islam dan tetaplah bersama orang orang shalih hingga akhir menutup mata.
Selamat hari Pahlawan.

Literasi Yang Terlupakan

 
(Sumber Gambar: Website Kemendikbud)

Belum lama ini kita sering mendengar istilah 'kegiatan literasi'. Praktisi pendidikan khususnya di negeri kita masih banyak yang membatasi arti istilah tersebut dengan kegiatan 'membaca' saja, tidak salah memang, akan tetapi yang paling urgen dari tujuan literasi ialah memahami apa yg sedang atau yang telah dibaca.

Jika sempat, kita juga boleh menilik dengan seksama pedoman kegiatan literasi yang telah disusun oleh pemerintah, di situ kita akan temukan kegiatan yang beragam mulai dari pojok baca kelas, memperkaya goresan tulisan motivasi ditiap sudut sekolah, apotek hidup sekolah, UKS yang mendukung hidup bersih, kantin sehat dan lain sebagainya. Intinya kegiatan literasi mencakup bagaimana siswa belajar atau memahami sesuatu dari apa yg dilihat, dialami dan dirasakan saat disekolah. Tidak cukup sebatas kegiatan 'membaca' buku, lalu setelah itu selesai?

Namun, ada yang terlupakan. Bahkan kegiatan literasi ini belum tercantum dalam pedoman yang telah pemerintah susun yaitu literasi yang mencakup kebutuhan rohani. Pentingkah itu? Ya, pasti. Rohani kita juga butuh bimbingan, butuh arahan sehingga tidak bimbang dan sakit.

Salah satu literasi yg mencakup kebutuhan rohani yaitu literasi Alqur'an. Sebagai Al Huda (petunjuk) maka boleh diusulkan bahwa kegiatan literasi Alqur'an harus lebih diutamakan dari pada kegiatan literasi lainnya. Apa dan seperti apa aplikasi literasi Alqur'an itu?

Jika mengambil makna literasi yang ada pada paragraf pertama tulisan ini, maka literasi Alqur'an secara sederhana yakni 'memahami Alqur'an', kalau mau lebih luas berarti memahami cara membaca dan menulis, tafsir serta kandungan ayat ayat yang ada dalam Alqur'an. Sulitkah? Tidak, setidaknya kita memulai dari yang paling sederhana yaitu paham cara membaca dan menulis Alqur'an sesuai ilmu syar'i yg melekat didalamnya.

Sebagai penutup tulisan ini, berikut hadits Rasulullah saw.
Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya (HR. Bukhari).
Selamat ber-literasi Alqur'an 'with our students'.

Muh.Hilal_19Muharom1440

Wednesday, March 14, 2018

Analisis Forensik Linguistik Atas Teks Pidato Gubernur DKI di Kepulauan Seribu

Oleh Prof.Dr.Mahsun, M.S Guru Besar Linguistik Universitas Mataram

Teks pidato Basuki Tjahja Purnama (BTP) sesungguhnya lebih dilatarbelakangi oleh konteks Pilkada DKI. Konteks ini tampak dari munculnya dua kali pernyataan BTP yang tersisipi pada uraiannya tentang program unggulan yang direncanakan untuk membangun masyarakat Kepulauan Seribu. Pernyataan itu misalnya tergambar pada unsur kebahasaan; (a) Saya selalu tegaskan sama bapak/ibu juga jangan terpengaruh ini urusan dengan pilkada coba ingat, kalu ada yang lebih baik dari saya, kerja lebih benar dari saya, lebih jujur dari saya bapak/ibu jangan pilih saya. Bapak ibu mau pilih saya, bapak ibu bodoh dan (b) Jadi Bapak ibu gak usah khawatir ini pemilihan kan dimajuin kalau  saya tidak terpilih bapak ibu, saya berhentinya Oktober 2017. Jadi kalau program ini kita jalanin dengan baik, bapak ibu masih sempat manen sama saya sekalipun saya tidak terpilih jadi gubernur. Agak menarik mengapa BTP memunculkan gagasan tentang Pilkada itu dua kali, dan disisipi di tengah-tengah uraiannya tentang paparan program unggulannya.  

Dalam teori linguistik dikenal konsep topikalisasi, pengedepanan/penonjolan. Repetisi/pengulangan merupakan salah satu strategi penonjolan gagasan. Dengan demikian, teks itu lebih diwarnai konteks Pilkada. Persoalannya, apabila pesan yang ditonjolkan itu lebih berkonteks pada Pilkada, mengapa harus berbicara berputar-putar, tentang program dan menyangkut diri pribadi Ahok,  tidak langsung saja ke masalah pemilihan? Hal itu, tentu terkait dengan pandangan yang dianut dan dicoba bangun oleh  BTP, yaitu: (a) sosok calon gubernur DKI yang layak dipilih adalah sosok gubernur yang memiliki program yang inovatif, (b) berintegritas: jujur, berani, tidak korup. Namun, dia pun sadar bahwa, ada tantangan latar belakang agama pemilih yang harus dihadapi, yaitu latar belakang pemilih muslim.  

Terkait hal pertama, tampak sekali BTP menyebutkan bahwa program yang diusulkan itu merupakan program yang prorakyat, bahkan untuk titik masuknya, BTP mencoba mempersonifikasikan diri sama dengan masyarakat kepualauan Seribu, seperti terkandung dalam ungkapannya: "Saya kalau ke pulau seribu saya pasti bilang masih ingat kampung saya... Waktu saya turun saya lihat pak lurah saya panggil pak kades. karena taunya Pak kades..." Lalu dilanjutkan dengan pemaparan program inovasinya berupa: (a) program budidaya; (b) Pembinaan nelayan budi daya perorangan tidak berkelompok dengan bagi hasil 80% untuk nelayan dan 20% untuk pemerintah; (c) pembentukan koperasi dengan anggota individu nelayan yang dapat bekerja sama; (d) penyerahan dana 20% untuk dikelola koperasi; (e) pengadaan sarana transportasi berupa kapal angkutan Jakarta-Pulau Seribu (PP). Program-program itu diklaim sebagai keunggulan sang Gubernur, yang tidak dimiliki oleh yang lain. Hal ini terungkap, misalnya dari pernyataan BTP: "...misalnya "...program tambak ini jalan gak? Oh Jalan, saya bikin sistem sangat baik. Ada tidak ada saya program yang saya ... jalan, ...". Selain program inovatif demikian, BTP juga mencitrakan diri sebagai sosok pemimpin yang berintegritas: jujur, berani, tidak korup, seperti dalam pernyataan: (a) ".., saya orangnya sederhana saja, ...kalau bapak ibu ndak mau rajin ndak mau kerja out aja..." (b) "... kapal dari pusat, sudah korupsi, kadang-kadang kayunya jelek,... Sudh kacau, ingat betul...sama dengan beras kin, tahun ini kita coba beras kin saya tidak mau lagi beri subsidi...". Bahkan untuk mencitrakan  dirinya lebih baik dari  calon lain, BTP melakukan pembandingan, misalnya: "... Ikhlas, tapi yang gak pengalaman  kita pilih ya bodoh. Beli kucing dalam karung juga gitu . Tukang jual obat banyak, tukang jual kecap selalu kecapnya nomor satu. Betul nggak? Kampanye sama... Kalau saya tidak pernah jual kecap nomor satu silakan tanding.. " Dan "... yang mau kerja sama untungnya 80 - 20, adilkan? Kalau gak adil, cari toke mana gak bakalan kasi deh. Ini toke ahok yang kasi 80-20..." 

Dalam hubunggannya dengan kesadaran BTP akan pemilih muslim, di sinilah BTP melakukan kesalahan patal dengan membuat pernyataan: "... Jadi, jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak/ibu gak bisa pilih saya, karena dibohongin pakai surat al maidah 51 macem-nacem  itu. Itu hak bapak ibu ya ..(pidato menit ke-19.16). Dari ketiga kalimat  di atas kalimat kedua, yang berupa kalimat majemuk bertingkat: "Kan bisa aja dalam hati kecil bapak/ibu gak memilih saya karena dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macem-macem itu." Apabila anak kalimat pengganti keterangan sebab: "...karena dibohongin pakai Al Maidah 51 macem-macem itu", dianalisis dengan menggunakan teori tagmemik tentang peran sintaktis, maka terjadi  penghilangan peran sasaran, yaitu bapak/ibu. Penghilangan itu dimungkinkan karena peran sasaran telah disebutkan pada induk kalimatnya, sehingga kalimat itu menjadi: "Kan bisa aja dalam hati kecil bapak/ibu  gak memilih saya karena bapak/ibu dibohongin pakai Al Maidah 51 macem-macem itu".  Pada konstruksi anak kalimat itulah terdapat unsur yang menganggap rendah Al Quran (Al Maidah 51), yaitu penggunaan kata: pakai  dan frase:  "...macem-macem itu...". Kata pakai dalam konstruksi "...dibohongin pakai Al Maidah 51..." berdasarkan teori tagmemik memiliki peran sintaktis sebagai alat/instrumental, buktinya konstruksi itu dapat dipeluas menjadi: "...karena bapak ibu dibohongin dengan memakai surat Al Maidah 51..." dan dari sudut pandang teori topikalisasi kata pakai pada konstruksi itu berfungsi sebagai upaya pengedepanan peran instrumental.

Persoalannya, siapa yang berperan sebagai pelaku tindakan pasif (dibohongin) itu? Pelakunya adalah; orang, yang terdapat pada kalimat pertama: "...Jadi, jangan percaya sama orang...". Persoalan selanjutnya, dalam pernyataan itu apakah yang dimaksudkan sebagai pelaku tindakan berbohong itu adalah orang atau surat Al Maidah 51 tersebut? Dengan penggunaan kata pakai mempertegas bahwa yang dipandang berbohong itu adalah alat, yaitu surat Al Maidah 51. Penguatan pemaknaan yang melakukan tindakan berbohong itu tertuju pada surat Al Maidah 51. Dari logika sederhana, alat yang dapat digunakan untuk berbohong adalah alat yang memang dari substansinya berisi kebohongan. Tidak mungkin alat yang secara substansi berisi kebenaran dapat digunakan sebagai alat untuk berbohong. Alat yang benar hanya dapat dipakai untuk menciptakan kebenaran. Bahwa rujukan makna yang  mengandung kebohongan itu adalah pada alatnya pada teks tersebut, dalam hal itu surat Al Maidah 51, diperkuat dengan keterangan yang disematkan pada surat Al Maidah 51, berupa frase "...macem-macem itu...".  Kata ulang macem-macem selalu berkonotasi negatif, itu sebabnya kata itu dapat berkolokasi dengan kata larangan: jangan, seperti dalam konstruksi: Jangan macam-macam ya, nanti saya berhentikan kamu dari pekerjaan ini; atau dapat berkolokasi dengan bentuk larangan:  tidak boleh, seperti dalam kalimat: Kamu tidak boleh macam-macam di tempat itu. Pemberian keterangan berupa frase: "macem-macem itu..." mengandung arti bahwa surat Al Maidah 51, merupakan surat yang kandungan isinya tidak seharusnya, ia mengandung makna di luar kelaziman (macem-macem). Dalam konteks ini terjadi penistaan atas surat Al Maidah 51, karena dipandang sebagai surat yang isinya tidak seharusnya. Padahal, bagi umat muslim Al Quran berisi kebenaran, tidak ada yang sia-sia yang Allah ciptakan, termasuk setiap ayat dalam Al Quran. Penistaan atas kandungan isi Al Quran identik dengan penistaan atas Penciptanya.

Persoalan lain, apakah penistaan yang dilakukan BTP merupakan suatu tindakan yang sengaja, secara sadar dilakukan atau tidak? Melalui analisis struktur isi teks, tindakan itu dilakukan secara sadar. Ada dua alasan utama yang dapat dikemukakan. Pertama,  isu utama yang ingin dibisampaikan BTP adalah isu tentang Pilkada DKI, karena pernyataan tentang itu muncul dua kali di sela-sela pembicaraannya tentang program dan dirinya. Kedua, munculnya pembicaraan mengenai Pilkada itu tersisipi pada konteks yang sengaja dikondisikan.  Sebagai contoh,  pembicaraan tentang Pilkada pertama kali muncul setelah BTP membahas keunggulan programnya dan pentingnya sosok gubernur yang berintegritas serta berpengalaman.

Adapun munculnya pembicaraan ttg isu Pilkada kedua terjadi setelah BTP berbicara tentang pentingnya kebersamaan, dengan menyatakan: "...jadi  kita saling jaga...". Hanya karena kebersamaan itulah sikap saling menjaga dapat dipelihara dan kebersamaan itu pula membuat tidak ada jarak, tidak ada perbedaan. Sekat-sekat perbedaan keyakinan, suku, bahasa tidaklah penting, yang penting adalah program unggulan yang prorakyat berjalan. Dalam konteks itu pula BTP ingin menetralkan sekat perbedaan agama dalam Pilkada. Hal itu bersesuaian dengan penyataannya, "... Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu gak bisa pilih saya, karena dibohongin pakai surat al maidah 51 macem-nacem  itu...". Selain itu, kedua pernyataan tentang isu Pilkada tersebut selalu dimulai dengan kalimat yang meminta perhatian, misalnya: "... Saya selalu tegaskan sama bapak/ibu juga jangan terpengaruh ini urusan dengan pilkad coba ingat,..", untuk memulai pernyataan tentang Pilkada pertama dan pernyataan: ".... Jadi Bapak ibu gak usa khawatir ini pemilihan kan dimajuin..."untuk memulai pernyataan tentang Pilkada kedua. Berdasarkan analisis forensik linguistik atas teks pidato Gubernur DKI di Kepulauan Seribu tersebut dapat dikatakan bahwa, bukti-bukti kebahasaan mendukung adanya penistaan terhadap Al Quran, khususnya Al Maidah 51 dan penistaan tersebut dilakukan secara sadar.