Bismillah, Selamat Datang Di Hidayat Hilal Blog

Semoga isi blog ini dapat bermanfaat.

Firman Allah Ta'ala

Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. Ali ‘Imran:31.

Hadits Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amalan yang diterima. HR. Ibnu Majah (www.muslim.or.id)

Perkataan Ulama

Dunia kampung amal dan akhirat kampung balasan, barang siapa yang tidak beramal di sini akan menyesal di sana. Nasehat Imam Ahmad Radhiallahuanhu.

Sunday, August 14, 2022

Ide Kreatif Juma

 


Hari ini Rara dan temannya bernama Juma sedang bersih-bersih di halaman belakang rumahnya. Mereka terlihat kompak. Percakapanpun sesekali terdengar dari mereka berdua.

"Halaman ini kalau gak bersih akan terlihat gak indah, ya kan Juma?" "Ra, itu mah kuno. Iya, ya lah kalau kotor mana ada yg indah. Aku malah pengennya...ni liat ni Ra, pagar tembok ini kita cat" kata Juma sambil mendekati pagar tembok rumah.

Tiba-tiba dari arah depan rumah muncul Banyu, nampaknya dia baru datang. Dia ke halaman belakang melewati lorong samping rumah.

"Wah..wah..wah.. luar biasa, setauku kalian lebih suka bermain, eh tapi hari ini memang beda, luarrr biassa" puji Banyu sambil angkat jempol kearah Rara dan Juma.

"Udah, udaah..sekarang coba gimana pendapatmu Nyu, tembok yg ini aku mau cat" seru Juma.

"Cat gimana maksudmu?" tanya Bayu.

"Cat untuk temboklah Nyu, gimana sih" jawab Juma.

"Ya, aku tau, maksudku kayak gimana motif atau warnanya?"

"Ah, kayak gimana kira-kira ya"

"Warnanya warna yang terang, pink, gimana?" sahut Rara

"Satu warna? Ah, gak seru banget kamu Ra" kata Juma pada Rara.

"La, terus mau mu?" tanya Banyu.

"Yang banyaklah Nyu, aku pengennya kita pakai grafiti aja"

"Cat semprot?"

"Ya dong"

"Gambarnya?"

"Ee..anime, gimana?"

"Idemu memang bagus, tuh tanya dulu yg punya rumah!" saran Banyu pada Juma sambil menunjuk Rara.

"Ra, gimana menurutmu?" tanya Juma

"Aku harus nanya Bundaku dulu"

"Yg terpenting halaman ini bersih dulu, itu coba lihat pojok kanan tuh, masih ada sampah. Dari tadi kita ngomongin ngecat tembok, tapiiii sampahnya masih ada nih. Gimana? Mau lanjut bersih-bersih?" sahut Banyu

"Hihihihi..iya ya, ayo kita lanjut!" ajak Rara penuh semangat.

Friday, July 1, 2022

Resensi Buku "Anak Bermasalah"

 


Penulis - Yasasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI); dr Sarno Sinto dkk

Penerbit - Bitread Publishing, 26 Halaman, Bandung, 2019

----------------

Isi : Tentang 6 jenis anak bermasalah yaitu - (1) anak penakut; (2) anak mengadat; (3) anak iri hati; (4) anak mengompol; (5) anak agresif; dan (6) anak pemalu.

#1 Anak Penakut : 

Penyebab - merasa kurang terlindungi, meniru orang terdekat, adanya pengalaman menakutkan yang berulang. 

Ekspresi - lari, sembunyi, menjerit, menangis, gemetar, ngompol

Solusi - jangan memaksakan suatu hal, jangan membuat malu si anak akan rasa takutnya, beri tahapan untuk mengenal sesuatu, jangan menampilkan rasa takut pada anak, beri keyakinan yang positif, hindari bercerita yang menakutkan

#2 Anak Mengadat

Yaitu meluapkan kemarahan, terjadi pada anak 2-3 tahun. Tidak wajar jika disertai membanting badan, membenturkan kepala, menendang, berguling, mencakar diri

Penyebab - permintaan tidak dipenuhi jika sebelumnya selalu dipenuhi, bingung karena dimarah padahal sebelumnya tidak, terlalu kaku dalam penanaman disiplin, selalu menyalahkan anak, meniru tingkah laku orang terdekatnya, kelainan di otak

Solusi - tenang dan bersikaplah biasa saat anak mengadat, jangan memaksa anak, longgarkan pendisiplinan yang berkaitan dengan hobinya, konsistensi terhadap larangan dan anjuran, beri pujian dan hadiah untuk hal baiknya

#3 Anak Iri Hati

Penyebab - merasa kedudukannya terancam, orang tua lebih perhatian pada kakak atau adiknya, pilih kasih

Solusi - jangan bedakan anak, jangan terlalu memuji satu anak, hindari persaingan pada anak yang menimbulkan iri hati

#4 Anak Ngompol

Batas normal anak ngompol yaitu umur 3 tahun, selebihnya patut diwaspadai

Penyebab - keturunan (gen), kurang (toilet training) dari orang tua, takut berpisah dengan orang tua, merasa tertekan, terlambat bicara atau mengeja atau membaca

Solusi - situasi rumah harus diubah agar lebih hangat, latihan (toilet training) sejak dini, jangan membuat malu anak saat ngompol, latih untuk kencing pada jam tertentu

#5 Anak Agresif

Suatu bentuk tingkah laku memukul, menendang, menggigit, menyerang orang, hewan atau benda

Penyebab - terlalu dimanjakan sehingga tidak dapat mengekang keinginannya, terlalu dilindungi, orang tua bertengkar depan anak, meniru yang pernah dilihat, orang tua terlalu berkuasa, ortu terlalu pasif, tidak selaras tindakan dan larangan orang tua

Solusi - orang tua adalah teladan, hindari hukuman fisik, salurkan sikap agresif anak dengan kegiatan memerlukan energi misal bermain bola, berenang, bersepeda dll, menghindari tontonan yg agresif, beri pujian jika anak tidak lagi agresif, hindari situasi yang menimbulkan agresif, memberi tanggung jawab dalam usaha membantu anak menjadi dewasa

#6 Anak Pemalu

Biasanya menarik diri untuk bergaul, tidak mau mengenal orang baru dll

Penyebab - mencontoh orang terdekatnya, kurang percaya diri dengan kemampuannya, tidak biasa dengan situasi baru

Ciri - gagap, gugup, sedikit sekali berbicara, memegang ujung kemeja, memegang telinga atau ujung hidung

Solusi - beri kesempatan bermain dengan temannya sebanyak mungkin, ajaklah anak untuk berkenalan dengan keluarga atau orang lain yang kita kenal, beri pujian hadiah pada hal baik yang dilakukan agar menambah kepercayaan dirinya

-----------------

Mendidik anak bukanlah perkara mudah, sebab sedikit saja keliru maka fatal akibatnya. Banyak sekali hal hal keliru dalam mendidik yang menyebabkan anak menjadi anak bermasalah, salah satu yang disebutkan dalam buku ini yaitu suka menakuti anak ternyata akan membuat anak menjadi penakut. 

Teladan yang salah juga ternyata  berpengaruh dalam tumbuh kembang anak. Hampir semua jenis anak bermasalah yang tertulis dalam buku ini salah satunya disebabkan karena mencontoh dari orang terdekatnya yang penakut, mengadat, agresif dan pemalu. Semoga buku ini dapat mengantarkan kita menjadi orang dewasa yang bijak membersamai anak. Jadikan mereka berani, lembut dan santun dalam bersikap, memiliki tenggang rasa dan yang paling penting ialah mandiri.

Thursday, December 10, 2020

Wanita Itu Bernama Ja’rah

Innalillahiwainnailaihiroji’un.. Seruan ini tidak lagi asing pada ummat muslim, pertanda telah terjadi musibah yang mesti diikhlaskan karena Allah, Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan tempat kembali semua makhluk di muka bumi ini.

Hari ini adalah hari keenam ummat Islam menjalankan ibadah puasa di tahun 1433 Hijriah, dan ternyata sang Maha Kuasa telah memanggil salah seorang hambaNya di tempat tinggalku untuk menghadap kepadaNya, dia bernama “Ja’rah”. Perempuan yang akrab dipanggil ‘penganten’ itu menutup usia diumur 63. Panggilan penganten merupakan panggilan khas yang diperuntukkan bagi orang yang baru menikah hingga ia memiliki anak atau keturunan dan barulah kemudian setelah memiliki anak ia dipanggil dengan nama ‘peraman’nya yaitu nama anak pertamanya. Akan tetapi panggilan peraman itu tidak bernasip pada almarhumah Ja’rah.

Bercerita panjang tentang penganten Ja’rah ini mungkin bisa kita jadikan refrensi baru mengenai legenda wanita-wanita tabah dimuka bumi ini. Betapa tidak, 40 tahun yang lalu ketika dia berumur sekitar 25 tahun, dia dinikahi seorang ‘bajang’ (bahasa sasak yang berarti pemuda) yang seumuran dengannya. Saat itu mungkin menjadi salah satu kebahagian paling berharga dan terkenang dalam hidupnya karena dalam benak hati setiap pasangan baru pasti berangan-angan untuk hidup lebih baik, menjalani kehidupan bersama selamanya dan memiliki keturunan yang menghormatinya untuk dapat merawatnya diwaktu tua dengan penuh cinta. Mungkin sederetan angan-angan ini juga terbersit dibenak hati penganten Ja’rah pada saat itu.

Takdir berkata beda, angan-angan itu tak tercapai. Dia hidup berkecukupan, tidak lebih baik dari sebelumnya, penantian panjang atas hadirnya keturunan menghiasi perjalanan rumah tangganya. Sepuluh tahun umur pernikahannya tak kunjung mendapatkan keturunan, pasrahpun mulai terucap dari bibirnya. Bukan sampai di sana, suami yang dicintainya ternyata memilih untuk menceraikannya. Kini penganten Ja’rah adalah seorang janda tua, telah kehilangan suami dan harapan untuk memiliki keturunan layaknya perempuan pada umumnya.

Hari ini hembusan nafas terakhir mengakhiri kesendirian penganten Ja’rah dalam menjalani hidup, dia tidak meninggalkan orang istimewa yang akan mendo’akan dan menziarahi makamnya. Semoga dia bahagia di alam sana.

Kita semua menyadari betapa pentingnya memiliki anak dari suatu pernikahan yang kita jalani. Bahkan sejarah mencatat betapa dianggap rendahnya wanita ketika tidak mampu memberi keturunan, tidak sedikit dari laki-laki yang menceraikannya. Keputusan bercerai dengan wanita yang mandul adalah tepat menurut mereka, anggapannya bahwa wanita seperti itu adalah wanita yang sia-sia. Memang tidak mudah untuk dihadapkan dengan masalah seperti itu, akan tetapi secara fitrah Tuhan menciptakan bumi dan seisinya bukan dengan percuma, jadi sudah seharusnya kita menghilangkan kata sia-sia pada semua benda di muka bumi ini baik itu buatan manusia lebih-lebih ciptaan Tuhan. Wanita adalah ciptaan Tuhan, jadi hargai dan hormati dia meskipun dia tidak mampu memberi keturunan. 

Tulisan ini aku persembahkan untuk para wanita dimanapun berada agar selalu tabah dan sabar menghadapi segala cobaan.

Bagi yang telah menikah dan telah dikaruniakan anak, syukuri apa yang Tuhan berikan saat ini.

Bagi laki-laki yang saat ini berniat menceraikan istrinya, fikirkan kembali keputusan terbaik sebelum mengucap kata cerai itu, karena tak ada manusia yang tak mau hidup bahagia, tak ada manusia yang ingin setiap waktu mendapat masalah, wanita juga manusia, hargai dia meskipun dia tak mampu memberikan keturunan, karena pada dasarnya itu diluar kehendak kita sebagai makhluk. Berikan wanita kebahagiaan dengan cinta dan kasih sayang untuk selama-lamanya.

Wednesday, December 2, 2020

Seratus Hari Yang Lalu

 



Hari itu, bulan suciMu baru saja menyapa. Cahaya mentari sedikit redup tak sepanas kemarin, udara agaknya dingin, tapi juga tak sedingin kemarin. Mungkin saja karena sayap sayap malaikat rahmatMu mulai berkepak kepak, menoleh ke bumi, lalu menatap orang-orang sekitarku. Ragakupun kini bergegas, lisanku lantunkan do'a tiada henti, sedangkan dentuman keras suara optimisku seakan tak kuat terbendung relung hati. Jika sepuluh tahun lalu lidahmu kelu mendengar vonis itu, sekarang akulah yang penuh sesak, rasanya tak sanggup tatapanku menghadapmu, ingin rasanya aku berbisik "biarkan aku yang menanggung laramu".

Sesampainya disana, ditempat itu, kau nampak pucat, senyum lebarmu tak terlihat. Tak sepatah katapun terucap darimu, akupun duduk memandang, sesekali aku coba memulai ucapan demi ucapan. "Maaf" gumamku, bukan karena cerewetku kambuh menghampirimu, bukan, namun, itu aku lakukan untuk memastikan responmu.

Hari itupun diagnosismu terinci lengkap, ditetapkanlah 'besok' sebagai puncak penawar luka di tubuhmu. Entahlah, dan kau pun tahu, kami khawatir, itu sudah pasti. Namun ada setitik pikiran seakan datang menghibur, memori setahun yang lalu ditempat yang sama, dan semoga Allah mentakdirkan yang sama pula 'besok'.

Tibalah hari itu, duduklah aku, menunggu dipanggilnya deretan namamu, sebagai pertanda aku bisa bersua. Ya, kini sudah terpanggil, saat aku mendekat, terbukalah matamu sedikit demi sedikit, terdengar pula lirih suaramu. Alhamdulillah, ucapku. Pulihlah sudah, pulihlah secepatnya, daun daun di taman telah kering, menunggu siraman air dari guyuran gayung gayungmu.

Kini, kita "Pulang" bersama, meskipun sejujurnya aku masih sangsi, tapi, ah sudahlah. Ku kuburkan dalam dalam sangsiku itu, agar ku yakin bahwa mentari esok lebih cerah dan tak ada lagi awan menjadi mendung. Di rumah, kau bersama kami, sanak saudaramu, handai tolanmu satu persatu datang menemuimu, meyakinkan dan menguatkanmu. Hei hei hei, kalian tak perlu datang, cukup aku yang menyemangatinya, menguatkannya, meyakinkannya, sebagaimana dahulu dialah yang melakukannya untukku disaat aku lemah atau jatuh sejatuh jatuhnya. Tak perlu datang lagi, cukup aku.

Berlalu, hari demi hari. Sepekan sudah, cukup membuatku yakin. Seingatku, petang itu makanan yang telah habis kau kunyah tak lagi mampu bertahan lama dalam perutmu, pikirku, ah ini pasti karena belum pulih total. Tapi perlahan engkau diam, lalu berkata sepatah kata, lalu diam lagi, engkau memberi isyarat, beberapa kali memberi isyarat dan akhirnya ku liat wajahmu pucat serta sekujur tubuhmu lunglai. Rupanya petang itu petang terakhirmu dirumah sedehana kita, rumah tempatku menangis saat kecil dan kau menimangku. Rumah bertaman mungil yang kau siram bunganya tiap sore hari, hampir setengah umurmu kau habiskan di rumah itu, rumah sederhana kita, tempatmu pernah bersujud, juga berdzikir memujaNya, kini pergi, engkau diangkat, dan dibawa menuju roda empat, pijakan terakhirmu telah terayun rapi, pergi, esok tak terdengar lagi hentakan sepatumu disitu.

Ya, berselang tiga hari, di sepertiga malam terakhir, Jumat pukul 04.00 engkau dipanggil menghadapNya, kami bertiga menyaksikan sekaratmu. Indah, tapi manyayat hatiku, karena kau tinggalkan aku tanpa bisikan apapun. Namun kau ajari aku cara melepas kepergianmu dengan cara yang selalu kau isyaratkan padaku. Kau ajari aku untuk selalu tegar, kau ajari aku untuk memaafkan orang yang menghianatiku, kau ajari aku untuk tidak menangis saat sedih, kau ajari aku mencintaiNya dan dengannya aku ikhlaskan kepergianmu, dan kau isyaratkan padaku bahwa suatu hari aku dan engkau akan bertemu kembali, hidup dan tak lagi berpisah selamanya.